ed Flag
Pernahkah kamu duduk di kantin kampus, menyeruput es teh manis, lalu mendengar percakapan di meja sebelah yang berbunyi: “Sumpah ya, si kating itu gaslight gue banget. Terus si A red flag abis, dibilangin malah defensif, toxic emang!”? Kalimat semacam ini rasanya makin akrab di telinga kita. Tanpa sadar, tongkrongan mahasiswa hari ini telah berubah menjadi semacam bangku sesi konseling dadakan. Istilah-istilah berat yang dulunya hanya mengendap di dalam draf rekam medis psikiater atau buku teks Psikologi Abnormal, kini mendadak jadi kosakata sehari-hari yang dilempar seringan kacang goreng.
Fenomena ini dalam sosiologi dan psikologi populer kerap disebut sebagai therapy speak—menjamurnya bahasa klinis ke dalam percakapan kasual. Di satu sisi, kita patut angkat topi kepada Generasi Z. Dibandingkan generasi-generasi sebelumnya, Gen Z adalah kelompok yang paling melek (aware) terhadap pentingnya kesehatan mental. Tabu mengenai kejiwaan berhasil mereka runtuhkan lewat konten TikTok, utas X (Twitter), hingga podcast. Namun, pendulum yang bergerak terlalu cepat sering kali melahirkan anomali: ketika kesadaran tidak dibarengi dengan literasi yang cukup, istilah medis justru mengalami degradasi makna.
Mari kita bedah kerancuan yang paling sering terjadi di lapangan. Seseorang yang membatalkan janji nugas bareng karena ketiduran, mendadak dilabeli “unreliable” dan punya “avoidant attachment”. Teman yang egois dan mau menang sendiri dalam diskusi kelompok, langsung didiagnosis mengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD). Padahal, ada perbedaan yang sangat masif antara sifat buruk manusiawi dengan gangguan kepribadian klinis. Tidak semua ketidaknyamanan yang kita rasakan adalah bentuk gaslighting; kadang, itu murni karena dua kepala punya opini yang berbeda saja.
Secara psikologis, mengapa bahasa terapi ini begitu adiktif digunakan oleh anak muda? Jawabannya sederhana: therapy speak menawarkan tameng moral yang absolut. Ketika seseorang berargumen menggunakan bahasa biasa seperti “Aku nggak suka kamu begini”, ruang diskusi dan kompromi masih terbuka lebar. Namun, begitu kalimatnya diganti menjadi “Tindakanmu mengganggu boundaries dan mental health-ku”, lawan bicara otomatis tersudut. Siapa yang berani mendebat ‘kesehatan mental’? Bahasa klinis dipakai bukan lagi untuk menyembuhkan, melainkan untuk memenangkan perdebatan dan menghindari akuntabilitas atas kesalahan sendiri.
Di balik kepraktisannya dalam memotong argumen, ada bahaya laten yang mengintai: pendangkalan isu kesehatan mental yang sesungguhnya. Psikolog Nick Haslam dari University of Melbourne memperkenalkan konsep concept creep, yaitu perluasan makna dari konsep-konsep bahaya atau patologis ke arah yang lebih remeh. Ketika istilah “trauma” dipakai untuk menggambarkan rasa sebal karena dosen memberi kuis dadakan, kata tersebut kehilangan bobot aslinya saat digunakan oleh penyintas kekerasan seksual atau veteran perang. Kita berisiko menertawakan penderitaan nyata karena bahasanya sudah terlalu sering dipakai untuk hal-hal yang sifatnya sepele.
Lebih jauh lagi, kebiasaan self-diagnose dan melabeli orang lain di tongkrongan merusak cara kita berinteraksi secara autentik. Hubungan antar-manusia yang sehat sejatinya membutuhkan friksi, rasa tidak nyaman, dan kesabaran untuk berproses. Namun, therapy speak menormalisasi jalan pintas bernama cut off. Sedikit ada konflik, langsung dilabeli toxic; sedikit tidak sefrekuensi, langsung dicap red flag. Padahal, kedewasaan emosional justru diuji ketika kita mampu duduk bersama menghadapi ketidaksempurnaan teman kita, bukan dengan mengisolasinya ke dalam kotak diagnosis imajiner.
Solusinya tentu bukan dengan berhenti membicarakan kesehatan mental, melainkan mengembalikan kata pada tempatnya. Sebagai mahasiswa, kita dituntut untuk memiliki presisi dalam berbahasa. Mari kembali belajar membedakan mana yang merupakan bad behavior (perilaku buruk) dan mana yang mental disorder (gangguan mental). Jika temanmu menyebalkan, katakan saja dia menyebalkan—tidak perlu menjadikannya bahan analisis skripsi dadakan. Memanusiakan manusia berarti menerima bahwa mereka bisa berbuat salah tanpa harus mengidap kelainan psikologis tertentu.
Menjaga kewarasan di era banjir informasi tidak cukup hanya bermodalkan konten media sosial berdurasi tiga puluh detik, melainkan lewat ketajaman nalar dan literasi yang teruji. Menjadi agen perubahan sosial yang empatik sekaligus kritis adalah langkah awal yang bisa kamu ambil saat ini. Bagi kamu yang siap mengasah ketajaman berpikir, memperluas wawasan, dan menjadi bagian dari generasi mahasiswa yang bijak berliterasi, mari wujudkan langkah nyata tersebut bersama ITB Swadharma. Segera daftarkan dirimu dan mulai perjalanan akademismu melalui link admisi.swadharma.ac.id.
Daftar Referensi
Furedi, F. (2004). Therapy culture: Cultivating vulnerability in an uncertain age. Routledge.
Haslam, N. (2016). Concept creep: Psychology’s expanding concepts of harm and pathology. Psychological Inquiry, 27(1), 1–17. https://doi.org/10.1080/1047840X.2016.1082418
Illouz, E. (2008). Saving the modern soul: Therapy, emotions, and the culture of self-help. University of California Press.



Comments are closed.