Masa kuliah sering kali digambarkan sebagai fase kebebasan dan pencarian jati diri. Di luar ruang kelas, interaksi sosial menjadi elemen utama yang membentuk karakter mahasiswa. Namun, euforia kebebasan ini kerap membawa jebakan terselubung berupa tren “nongki gajelas” atau nongkrong tanpa arah. Banyak mahasiswa baru yang terseret arus pergaulan ini hanya demi validasi sosial dan rasa takut tertinggal (Fear of Missing Out), tanpa menyadari bahwa lingkungan pergaulan yang mereka pilih saat ini akan sangat menentukan arah dan fondasi masa depan karir mereka.

Fenomena circle toxic di kampus biasanya berlindung di balik kedok solidaritas pertemanan yang salah kaprah. Padahal, relasi semacam ini kerap menuntut kepatuhan buta pada gaya hidup hedonis. Mahasiswa merasa ditekan untuk terus mengikuti tren konsumtif—mulai dari berpindah-pindah kafe setiap malam hingga memaksakan diri tampil dengan standar di luar batas kemampuan finansial. Teman yang berada dalam circle beracun ini sering kali hanya datang saat butuh, memanipulasi keadaan, dan bahkan secara halus mencemooh anggota kelompok yang mulai memilih untuk lebih fokus belajar atau mengembangkan diri.

Alih-alih menjadi tempat bersandar, berada di dalam lingkungan pertemanan yang salah justru akan menguras energi dan merusak kesehatan mental. Komunikasi yang tidak sehat dalam pertemanan memicu munculnya tekanan emosional yang berujung pada hilangnya rasa percaya diri. Sejumlah studi terkait perilaku pertemanan mahasiswa (seperti yang diamati oleh Dalimunthe et al., 2024; serta Farida, 2022) mengonfirmasi bahwa toxic friendship kerap diwarnai kecemburuan dan kompetisi yang tidak sehat. Mahasiswa sering kali terjebak dalam siklus kecemasan dan overthinking karena takut dikucilkan apabila mereka berani menolak ajakan nongkrong yang sebenarnya sangat merugikan.

Dampak destruktif dari kebiasaan membuang waktu ini pada akhirnya akan menjalar langsung ke performa akademik. Waktu yang seharusnya dapat diinvestasikan untuk mengeksplorasi literatur, menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan, atau mengasah skill teknis justru menguap sia-sia di meja kopi. Syarifuddin (2019) dalam penelitiannya menegaskan bahwa interaksi dan lingkungan teman sebaya memiliki korelasi yang sangat kuat dan signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa. Ketika sebuah circle menormalisasi budaya bolos kuliah dan menunda-nunda pekerjaan, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pasti akan merosot tajam, menyisakan kesiapan mental dan kompetensi yang sangat minim untuk menghadapi dunia profesional.

Banyak mahasiswa berdalih bahwa kebiasaan nongkrong setiap malam adalah cara untuk membangun networking. Pada kenyataannya, ini adalah ilusi belaka. Jaringan profesional yang sesungguhnya dibangun melalui pertukaran wawasan yang substansial, proyek kolaborasi, atau keterlibatan aktif dalam kepanitiaan dan organisasi kampus. Mengobrol tanpa arah hingga larut malam sama sekali tidak menambah nilai kompetensi di dalam CV atau portofolio. Relasi yang bernilai untuk karirmu adalah mereka yang saling mendorong untuk produktif, bukan yang menarikmu ke dalam zona nyaman yang penuh kemalasan.

Oleh karena itu, menjadi selektif dalam menyaring pertemanan di masa kuliah bukanlah sebuah kesombongan, melainkan langkah krusial untuk bertahan hidup. Di tengah kerasnya persaingan industri pasca-kampus, kamu mutlak membutuhkan lingkungan yang suportif. Circle pergaulan yang positif akan bertindak sebagai katalisator pertumbuhanmu; mereka akan menantangmu untuk mengikuti kompetisi, berdiskusi tentang tren karir, dan menjadi sistem pendukung terkuat saat kamu menghadapi tekanan akademik. Mengambil jarak dari lingkungan yang beracun adalah keputusan rasional demi melindungi masa depanmu sendiri.

Mengingat betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap keberhasilan dan pembentukan karir, memilih institusi pendidikan dengan atmosfer akademik yang tepat adalah langkah esensial pertama yang harus diambil. Jangan biarkan masa mudamu terbuang di lingkungan pergaulan yang salah. Ambil kendali atas masa depanmu hari ini, temukan komunitas yang berorientasi pada kesuksesan jangka panjang, dan mulailah perjalananmu dengan mendaftar di ITB Swadharma melalui admisi.swadharma.ac.id.

Daftar Pustaka

Dalimunthe, A. Q., Sinulingga, N. N., Koto, T. I., & Ananda, D. (2024). Toxic friendship communication behavior (Studi: Mahasiswa BPI Universitas Islam Negeri Sumatera Utara). Community Development Journal, 5(1), 1826–1831.

Farida, Y. E. (2022). Perilaku komunikasi toxic friendship dengan teman sebaya pada mahasiswa di STIKES Hang Tuah Surabaya [Skripsi sarjana, STIKES Hang Tuah Surabaya]. Repository STIKES Hang Tuah Surabaya. https://repository.stikeshangtuah-sby.ac.id/id/eprint/1577/1/Skripsi_Yunita%20Elly%20Farida_1810113.pdf

Syarifuddin, A. (2019). Pengaruh pergaulan teman sebaya terhadap prestasi belajar matematika mahasiswa STKIP Paris Barantai. CENDEKIA: Jurnal Ilmiah Pendidikan, 7(2), 284-292. https://doi.org/10.33659/cip.v7i2.144