Pernahkah kamu merasa kepala mau pecah gara-gara tumpukan tugas kuliah yang deadline-nya mepet, lalu tanpa sadar jari-jarimu malah asyik scroll aplikasi e-commerce? Awalnya cuma berniat cuci mata melihat-lihat barang lucu, eh tahu-tahu langsung klik ‘Check Out’ karena merasa “aku pantas mendapatkan ini setelah lelah nugas”. Kalau skenario ini terasa sangat familier, hati-hati! Kamu mungkin sedang terjebak dalam sebuah ilusi kebahagiaan sesaat yang berpotensi membuat dompetmu menangis histeris di akhir bulan.

Fenomena ini belakangan sering disebut sebagai doom spending. Secara psikologis, doom spending adalah perilaku belanja impulsif yang dilakukan seseorang untuk meredakan stres, kecemasan, atau perasaan tidak berdaya terhadap keadaan—baik itu tekanan tugas kuliah yang menumpuk maupun kecemasan akan masa depan seperti ketidakpastian karir dan ekonomi. Bagi mahasiswa, tekanan akademik sering kali menjadi pemicu utama. Alih-alih beristirahat atau menghadapi sumber stres, berbelanja online menjadi pelarian instan yang terasa lebih mudah, cepat, dan menyenangkan.

Kenapa hal ini bisa terjadi dengan sangat mudah? Jawabannya ada pada hormon dopamin. Saat kita memasukkan barang ke keranjang dan menyelesaikan pembayaran, otak melepaskan dopamin yang memberikan sensasi kepuasan, kontrol, dan kebahagiaan instan. Sayangnya, “obat penenang” ini durasinya sangat singkat. Begitu paket datang dan euforianya mereda, yang tersisa biasanya hanyalah rasa bersalah dan saldo rekening yang menipis. Siklus inilah yang disebut lingkaran setan; kamu stres nugas, kamu belanja, kamu makin stres karena kehabisan uang saku, lalu kamu butuh pelarian dan belanja lagi.

Nah, mari kita lihat fenomena ini dari kacamata ceria anak prodi Akuntansi! Dalam dunia akuntansi, dompet yang menangis di akhir bulan ini sebenarnya adalah masalah cash flow (arus kas) yang berdarah-darah alias negatif. Sebuah entitas (termasuk dirimu sendiri) tidak akan bisa bertahan lama kalau pengeluaran (beban) selalu lebih besar daripada pemasukan (pendapatan dari orang tua atau hasil kerja sampingan). Oleh karena itu, kita perlu melakukan manajemen emosi sekaligus manajemen keuangan yang cerdas. Yuk, ubah mindset kita menjadi “Manajer Keuangan” bagi dompet kita sendiri!

Langkah pertama untuk keluar dari jerat doom spending adalah membuat pos anggaran khusus “Fun Fund” atau dana hiburan. Anak akuntansi tahu betul pentingnya budgeting! Kamu tidak dilarang belanja atau self-reward, kok. Alokasikan saja sekitar 10-20% dari uang sakumu di awal bulan khusus untuk jajan, check out keranjang, atau sekadar nongkrong santai. Aturan mainnya tegas: kalau saldo budget hiburan bulan ini sudah limit, berarti keranjang belanjaanmu harus rela dianggurkan sampai bulan depan. Dengan begini, pengeluaran impulsifmu memiliki batas maksimal yang aman tanpa mengganggu uang makan.

Langkah kedua yang wajib kamu terapkan adalah “Aturan 24 Jam” atau cooling down period sebelum check out. Ketika hasrat belanja karena stres itu datang, biarkan barangnya mengendap di keranjang selama 24 jam penuh. Dalam ilmu akuntansi dasar, kita harus sangat teliti memisahkan mana yang merupakan needs (kebutuhan pokok operasional) dan wants (keinginan belaka). Waktu 24 jam ini akan memberi jeda pada otak logis-mu untuk mengambil alih kendali dari emosi yang sedang meletup-letup. Biasanya, setelah sehari berlalu dan stres nugasmu sedikit mereda, kamu akan sadar bahwa kamu sebenarnya tidak butuh-butuh amat barang tersebut.

Mengelola keuangan sejak bangku kuliah bukan sekadar soal pelit atau berhemat ekstrim, melainkan tentang membangun kebiasaan dan kedisiplinan yang akan menyelamatkan masa depanmu. Nah, jika kamu tertarik untuk mendalami ilmu keuangan, akuntansi, dan bisnis agar semakin jago mengelola aset di masa depan, ITB Swadharma adalah pilihan kampus yang sangat tepat! Jangan biarkan stres menghalangi langkahmu meraih cita-cita yang gemilang. Yuk, bergabung bersama kami, jadilah mahasiswa berprestasi yang melek finansial, dan daftarkan dirimu segera sebagai mahasiswa baru. Dapatkan informasi pendaftaran selengkapnya dengan mengunjungi laman admisi kami di admisi.swadharma.ac.id. Kami tunggu kehadiranmu di kampus, ya!

Daftar Pustaka

Baumeister, R. F. (2002). Yielding to temptation: Self-control failure, impulsive purchasing, and consumer behavior. Journal of Consumer Research, 28(4), 670–676. https://doi.org/10.1086/338209

Sneath, J. Z., Lacey, R., & Kennett-Hensel, P. A. (2009). Coping with a natural disaster: Losses, emotions, and impulsive and compulsive buying. Marketing Letters, 20(1), 45–60. https://doi.org/10.1007/s11002-008-9049-y Yarrow, A. L. (2014). Decoding the new consumer mind: How and why we shop and buy. John Wiley & Sons.Pernahkah kamu merasa kepala mau pecah gara-gara tumpukan tugas kuliah yang deadline-nya mepet, lalu tanpa sadar jari-jarimu malah asyik scroll aplikasi e-commerce? Awalnya cuma berniat cuci mata melihat-lihat barang lucu, eh tahu-tahu langsung klik ‘Check Out’ karena merasa “aku pantas mendapatkan ini setelah lelah nugas”. Kalau skenario ini terasa sangat familier, hati-hati! Kamu mungkin sedang terjebak dalam sebuah ilusi kebahagiaan sesaat yang berpotensi membuat dompetmu menangis histeris di akhir bulan.

Fenomena ini belakangan sering disebut sebagai doom spending. Secara psikologis, doom spending adalah perilaku belanja impulsif yang dilakukan seseorang untuk meredakan stres, kecemasan, atau perasaan tidak berdaya terhadap keadaan—baik itu tekanan tugas kuliah yang menumpuk maupun kecemasan akan masa depan seperti ketidakpastian karir dan ekonomi. Bagi mahasiswa, tekanan akademik sering kali menjadi pemicu utama. Alih-alih beristirahat atau menghadapi sumber stres, berbelanja online menjadi pelarian instan yang terasa lebih mudah, cepat, dan menyenangkan.

Kenapa hal ini bisa terjadi dengan sangat mudah? Jawabannya ada pada hormon dopamin. Saat kita memasukkan barang ke keranjang dan menyelesaikan pembayaran, otak melepaskan dopamin yang memberikan sensasi kepuasan, kontrol, dan kebahagiaan instan. Sayangnya, “obat penenang” ini durasinya sangat singkat. Begitu paket datang dan euforianya mereda, yang tersisa biasanya hanyalah rasa bersalah dan saldo rekening yang menipis. Siklus inilah yang disebut lingkaran setan; kamu stres nugas, kamu belanja, kamu makin stres karena kehabisan uang saku, lalu kamu butuh pelarian dan belanja lagi.

Nah, mari kita lihat fenomena ini dari kacamata ceria anak prodi Akuntansi! Dalam dunia akuntansi, dompet yang menangis di akhir bulan ini sebenarnya adalah masalah cash flow (arus kas) yang berdarah-darah alias negatif. Sebuah entitas (termasuk dirimu sendiri) tidak akan bisa bertahan lama kalau pengeluaran (beban) selalu lebih besar daripada pemasukan (pendapatan dari orang tua atau hasil kerja sampingan). Oleh karena itu, kita perlu melakukan manajemen emosi sekaligus manajemen keuangan yang cerdas. Yuk, ubah mindset kita menjadi “Manajer Keuangan” bagi dompet kita sendiri!

Langkah pertama untuk keluar dari jerat doom spending adalah membuat pos anggaran khusus “Fun Fund” atau dana hiburan. Anak akuntansi tahu betul pentingnya budgeting! Kamu tidak dilarang belanja atau self-reward, kok. Alokasikan saja sekitar 10-20% dari uang sakumu di awal bulan khusus untuk jajan, check out keranjang, atau sekadar nongkrong santai. Aturan mainnya tegas: kalau saldo budget hiburan bulan ini sudah limit, berarti keranjang belanjaanmu harus rela dianggurkan sampai bulan depan. Dengan begini, pengeluaran impulsifmu memiliki batas maksimal yang aman tanpa mengganggu uang makan.

Langkah kedua yang wajib kamu terapkan adalah “Aturan 24 Jam” atau cooling down period sebelum check out. Ketika hasrat belanja karena stres itu datang, biarkan barangnya mengendap di keranjang selama 24 jam penuh. Dalam ilmu akuntansi dasar, kita harus sangat teliti memisahkan mana yang merupakan needs (kebutuhan pokok operasional) dan wants (keinginan belaka). Waktu 24 jam ini akan memberi jeda pada otak logis-mu untuk mengambil alih kendali dari emosi yang sedang meletup-letup. Biasanya, setelah sehari berlalu dan stres nugasmu sedikit mereda, kamu akan sadar bahwa kamu sebenarnya tidak butuh-butuh amat barang tersebut.

Mengelola keuangan sejak bangku kuliah bukan sekadar soal pelit atau berhemat ekstrim, melainkan tentang membangun kebiasaan dan kedisiplinan yang akan menyelamatkan masa depanmu. Nah, jika kamu tertarik untuk mendalami ilmu keuangan, akuntansi, dan bisnis agar semakin jago mengelola aset di masa depan, ITB Swadharma adalah pilihan kampus yang sangat tepat! Jangan biarkan stres menghalangi langkahmu meraih cita-cita yang gemilang. Yuk, bergabung bersama kami, jadilah mahasiswa berprestasi yang melek finansial, dan daftarkan dirimu segera sebagai mahasiswa baru. Dapatkan informasi pendaftaran selengkapnya dengan mengunjungi laman admisi kami di admisi.swadharma.ac.id. Kami tunggu kehadiranmu di kampus, ya!

Daftar Pustaka

Baumeister, R. F. (2002). Yielding to temptation: Self-control failure, impulsive purchasing, and consumer behavior. Journal of Consumer Research, 28(4), 670–676. https://doi.org/10.1086/338209

Sneath, J. Z., Lacey, R., & Kennett-Hensel, P. A. (2009). Coping with a natural disaster: Losses, emotions, and impulsive and compulsive buying. Marketing Letters, 20(1), 45–60. https://doi.org/10.1007/s11002-008-9049-y

Yarrow, A. L. (2014). Decoding the new consumer mind: How and why we shop and buy. John Wiley & Sons.