Pernahkah kamu membuka aplikasi LinkedIn dan tiba-tiba merasa dada sesak karena melihat rentetan pembaruan dari teman seangkatan? Di satu sisi layar, ada teman yang baru saja memamerkan deretan sertifikat keahlian bergengsi, sementara di sisi lain ada yang menceritakan pengalaman magangnya di startup besar atau merayakan kemenangan lomba tingkat nasional. Menjelajahi platform profesional di era digital sering kali menjadi pisau bermata dua bagi mahasiswa. Alih-alih mendapatkan inspirasi, tidak sedikit yang justru terjebak dalam rasa cemas, merasa tertinggal, dan kehilangan kepercayaan diri saat membandingkan kehidupan nyatanya dengan etalase kesuksesan orang lain.
Perasaan minder dan cemas yang berlebihan ini sering kali berujung pada fenomena psikologis yang dikenal sebagai Imposter Syndrome atau sindrom penipu. Dalam konteks dunia kampus, sindrom ini bermanifestasi sebagai perasaan bahwa diri sendiri adalah seorang “penipu” yang sebenarnya tidak memiliki prestasi atau kemampuan yang layak. Mahasiswa yang mengalaminya cenderung meremehkan pencapaian mereka sendiri, menganggap kesuksesan kecil yang diraih hanyalah kebetulan atau keberuntungan semata, dan hidup dalam ketakutan terus-menerus bahwa suatu saat ketidakmampuan mereka akan terbongkar. Melihat deretan profil LinkedIn yang tampak sempurna membuat mereka semakin merasa tidak pantas berada di lingkungan akademisnya.
Penting untuk disadari bahwa apa yang ditampilkan di LinkedIn dan media sosial lainnya hanyalah highlight reel atau cuplikan momen-momen terbaik dari kehidupan seseorang. Di balik satu unggahan keberhasilan magang atau foto memegang piala kemenangan lomba, ada puluhan revisi, begadang berhari-hari, hingga ratusan surat penolakan yang tidak pernah dibagikan ke publik. Membandingkan proses berdarah-darah yang sedang kamu jalani di belakang layar dengan hasil akhir kesuksesan orang lain di atas panggung adalah sebuah ketidakadilan terhadap diri sendiri yang hanya akan memupuk Imposter Syndrome menjadi semakin subur.
Langkah pertama dan paling ampuh untuk mengatasi perasaan ini adalah dengan mulai berfokus pada timeline atau garis waktu diri sendiri. Setiap individu memiliki zona waktu kehidupan, kelebihan, privilese, dan tantangan yang berbeda-beda. Ada yang bersinar di semester awal, ada yang baru menemukan ritme akademisnya di tingkat akhir, dan ada pula yang karirnya baru melejit jauh setelah lulus. Menerima kenyataan bahwa kesuksesan bukanlah sebuah balapan serentak akan membantu menurunkan ekspektasi tidak realistis yang membebani pikiran dan memicu kecemasan.
Selain itu, cobalah untuk secara sadar mengubah sudut pandang dalam merespons pencapaian orang lain. Daripada membiarkan rasa insecure mengambil alih akal sehat, jadikan unggahan teman-temanmu di LinkedIn sebagai peta jalan pembelajaran. Jika kamu melihat teman diterima di startup impianmu, pelajari rekam jejaknya, lihat keterampilan tambahan apa yang ia cantumkan, atau bahkan jangan ragu untuk berjejaring dan bertanya langsung mengenai tips persiapannya. Mengubah rasa iri menjadi rasa ingin tahu yang positif akan menggeser fokusmu dari perasaan tidak mampu menjadi motivasi untuk terus bertumbuh.
Jangan lupa untuk selalu merayakan kemenangan-kemenangan kecil yang kamu raih setiap harinya untuk membangun kembali rasa percaya diri. Berhasil menyelesaikan draf tugas tepat waktu, berani berpendapat dalam diskusi kelas, atau sekadar mampu menjaga kesehatan mental di tengah padatnya jadwal ujian adalah rentetan prestasi yang patut diapresiasi. Rutin mencatat proses dan perkembangan diri sendiri dalam sebuah jurnal dapat menjadi bukti nyata bahwa kamu terus bergerak maju, sehingga suara-suara keraguan yang diciptakan oleh Imposter Syndrome dapat perlahan diredam.
Pada akhirnya, masa kuliah adalah ruang eksplorasi personal untuk menemukan versi terbaik dari dirimu sendiri, bukan ajang pembuktian untuk memvalidasi diri di hadapan orang lain di dunia maya. Temukan ritmemu sendiri, dan bergabunglah dengan lingkungan akademis yang mendukung proses belajarmu tanpa tekanan perbandingan yang toxic. Yuk, mulai perjalanan kuliahmu dan fokus kembangkan minat serta bakat unikmu di ITB Swadharma!. Segera daftarkan dirimu dan wujudkan potensimu dengan mengunjungi admisi.swadharma.ac.id.
Daftar Referensi
Clance, P. R., & Imes, S. A. (1978). The imposter phenomenon in high achieving women: Dynamics and therapeutic intervention. Psychotherapy: Theory, Research & Practice, 15(3), 241–247. https://doi.org/10.1037/h0086006
Feenstra, S., Begeny, C. T., Ryan, M. K., Rink, F. A., Stoker, J. I., & Jordan, J. (2020). Contextualizing the imposter “syndrome”. Frontiers in Psychology, 11, 575024. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.575024
Verduyn, P., Ybarra, O., Résibois, M., Jonides, J., & Kross, E. (2017). Do social network sites enhance or undermine subjective well‐being? A critical review. Social Issues and Policy Review, 11(1), 274-302. https://doi.org/10.1111/sipr.12033



Comments are closed.