Momen paling mendebarkan di bangku kuliah bukanlah saat ujian akhir atau sidang skripsi, melainkan ketika dosen tersenyum tipis lalu berkata, “Tugas ini dikerjakan secara berkelompok, ya.” Dalam sepersekian detik, atmosfer kelas langsung berubah layaknya arena survival game. Ada yang langsung melirik teman pintarnya dengan tatapan memelas, ada yang pura-pura sibuk mencatat, dan tentu saja, ada yang mendadak pura-pura ke toilet. Dinamika group work ini seolah menjadi miniatur kehidupan sosial yang penuh intrik, keringat, dan air mata.
Di kasta tertinggi drama ini, bersemayamlah “Si Bos Jago Suruh”. Tipe mahasiswa ini memiliki bakat manajerial tingkat dewa—setidaknya menurut mereka sendiri. Pekerjaan utamanya adalah membagi-bagi tugas di grup WhatsApp dengan nada otoriter, lalu menghilang ke dimensi lain. Kontribusi terbesarnya hanyalah mengetik, “Gimana guys progresnya? Tolong dimaksimalkan ya, soalnya gue bagian nge-print sama ngejilid nih.” Padahal, zaman sekarang semuanya dikumpulkan via e-learning dalam format PDF.
Di sisi lain spektrum, kita punya “Si Hilang Timbul Kayak Sinyal”. Eksistensinya dalam kelompok lebih gaib daripada mitos urban kampus. Pesan di grup hanya dibaca (itu pun kalau read receipt tidak dimatikan), dan ditelepon pun tak pernah diangkat dengan alasan legendaris: “Maaf, Wi-Fi kosan mati.” Namun, keajaiban akan terjadi pada hari-H presentasi. Tiba-tiba dia muncul dengan kemeja paling rapi, senyum paling manis, dan dengan lantang berkata kepada dosen, “Baik, saya akan menambahkan poin dari teman saya…” menggunakan materi yang baru saja dia baca dua menit lalu di lorong kelas.
Lalu, siapakah pahlawan tanpa tanda jasa di balik nilai A kelompok ini? Tentu saja “Si Tukang Ketik Pasrah”. Tipe ini adalah tulang punggung peradaban akademis. Dengan mata panda hasil begadang dan asupan kafein yang melebihi batas wajar, ia merangkap sebagai researcher, copywriter, pendesain slide, hingga proofreader. Motivasi utamanya bukanlah untuk menguasai ilmu secara absolut, melainkan sekadar rasa keputusasaan tingkat tinggi: “Daripada nilai gue hancur karena nungguin mereka, mending gue kerjain semuanya sendiri.”
Secara ilmiah, fenomena lepas tangan berjamaah ini punya nama keren: social loafing atau kemalasan sosial. Ini adalah hukum alam di mana semakin banyak anggota sebuah kelompok, semakin sedikit usaha yang dikeluarkan oleh individu karena merasa beban tanggung jawab sudah terbagi (atau lebih tepatnya, bisa ditimpakan ke orang lain yang lebih rajin). Meski penuh drama berdarah-darah, harus diakui bahwa siksaan tugas kelompok inilah yang paling sukses melatih mental survival mahasiswa sebelum menghadapi kejamnya dunia kerja.
Terlalu lelah dengan drama social loafing dan toxic friendship di kampus? Tenang saja, masa kuliah itu seharusnya jadi momen untuk berkembang bareng teman-teman yang satu frekuensi. Jangan biarkan masa mudamu habis cuma buat ngurusin anggota kelompok yang fiktif. Yuk, daftar sekarang dan temukan teman terbaikmu dengan klik admisi.swadharma.ac.id!
Daftar Pustaka
Karau, S. J., & Williams, K. D. (1993). Social loafing: A meta-analytic review and theoretical integration. Journal of Personality and Social Psychology, 65(4), 681–706. Latané, B., Williams, K., & Harkins, S. (1979). Many hands make light the work: The causes and consequences of social loafing. Journal of Personality and Social Psychology, 37(6), 822–832



Comments are closed.