Pernah nggak sih kamu lagi duduk manis di kelas, dengerin dosen ngejelasin materi, tapi di dalam hati teriak, “Eh, tunggu dulu, kayaknya ada yang kurang pas deh!”? Sebagai Gen-Z yang kritis dan melek informasi, wajar banget kalau sesekali kita punya perspektif yang berbeda. Sayangnya, ngutarain ketidaksetujuan ke dosen itu kadang rasanya kayak lagi menjinakkan bom waktu. Salah potong kabel dikit, nilai bisa auto terjun bebas atau malah dilabeli mahasiswa kurang ajar. Padahal, niat hati murni cuma mau diskusi, bukan ngajak adu mekanik!
Kunci utama untuk keluar dari dilema ini ada di seni komunikasi asertif. Berkomunikasi secara asertif itu letaknya pas di tengah-tengah: nggak pasif (cuma diam nerima nasib padahal nggak setuju) dan pastinya nggak agresif (ngegas bawa-bawa emosi). Komunikasi asertif bikin kamu bisa menyampaikan isi kepala dengan lugas dan terstruktur, tapi tetap membungkusnya dengan packaging kesopanan khas budaya ketimuran. Nah, biar public speaking kamu makin pro saat presentasi dan nggak bikin dosen baper, ada beberapa trik ninja yang bisa diterapkan.
Pertama dan paling krusial, perhatikan timing alias waktu yang tepat. Jangan pernah sekali-kali memotong pembicaraan dosen yang lagi asyik-asyiknya menjelaskan. Ibarat kamu lagi nonton film seri lagi seru-serunya terus tiba-tiba TV dimatiin—pasti bete banget, kan? Sabar sedikit, tunggu sampai beliau selesai memberikan penjelasan atau saat sesi tanya jawab sudah resmi dibuka. Angkat tangan dengan sopan, berikan senyuman tipis, dan bicaralah hanya setelah kamu dipersilakan.
Kedua, gunakan jurus “Validasi sebelum Interupsi”. Daripada langsung to-the-point menohok dengan bilang, “Pak, teori itu udah nggak relevan!”, mending pakai kalimat ajaib yang jauh lebih elegan. Coba buka dengan, “Terima kasih atas penjelasannya, Pak. Saya sangat setuju dengan poin A yang Bapak sampaikan. Namun, izin bertanya dan berdiskusi, berdasarkan literatur yang baru saya baca, ternyata ada perspektif lain…” Kalimat pembuka seperti ini akan membuat dosen merasa dihargai sebelum kamu melempar “bola salju” pendapatmu.
Ketiga, selalu terapkan prinsip data over drama! Ingat, ruang kelas adalah mimbar akademik, bukan kolom komentar media sosial yang bisa asal ketik tanpa bukti. Kalau kamu mau menyampaikan ketidaksetujuan, pastikan kamu sudah mengantongi argumen yang solid berdasarkan riset, jurnal, atau buku referensi yang kredibel. Menyampaikan argumen dengan landasan data bakal bikin kamu terlihat cerdas dan well-prepared, bukan sekadar mahasiswa caper yang cari panggung di tengah jam kuliah.
Keempat, jaga bahasa tubuh dan intonasi suara. Ini adalah hacks public speaking yang sering banget disepelekan. Kamu mungkin merangkai kata-kata yang super sopan, tapi kalau nadanya ketus dan matanya melotot menantang, ya sama aja bohong. Gunakan nada suara yang tenang, volume yang pas (nggak bisik-bisik, nggak teriak), dan tatap mata dosen dengan hangat. Pantangan mutlak: hindari menyilangkan tangan di dada, membuang muka, atau eye-rolling!
Kelima, tanamkan mindset bahwa ini adalah ruang diskusi untuk sama-sama belajar, bukan final lomba debat yang harus ada pemenangnya. Tujuan utama kamu berbeda pendapat adalah untuk memperkaya wawasan dan menggali ilmu lebih dalam, bukan untuk nge-skakmat dosen pembimbing. Kalau pada akhirnya dosen tetap teguh pada pendiriannya, belajarlah untuk mempraktikkan agree to disagree alias sepakat untuk tidak sepakat. Angguk-angguk sopan, ucapkan terima kasih atas perspektifnya, dan sudahi sesi dengan senyum.
Pada akhirnya, kemampuan komunikasi asertif ini adalah investasi soft skill jangka panjang yang manfaatnya luar biasa. Saat kamu bisa menyampaikan perbedaan pendapat dengan elegan, kamu justru sedang membangun reputasi sebagai Gen-Z yang dewasa, profesional, dan punya pola pikir problem-solving yang ciamik. Dosen pun bukannya baper, tapi malah akan respek dan mengingat kamu sebagai mahasiswa berkarakter yang tajam analisisnya namun tetap tinggi adabnya. Yuk, jadikan masa kuliahmu sebagai ajang upgrade diri yang seru, positif, dan bermakna! Segera daftarkan dirimu untuk bergabung bersama kami melalui link admisi.swadharma.ac.id.
Daftar Referensi
Adler, R. B., Rodman, G., & du Pré, A. (2019). Understanding human communication (14th ed.). Oxford University Press.
DeVito, J. A. (2018). The interpersonal communication book (15th ed.). Pearson.
Lucas, S. E. (2020). The art of public speaking (13th ed.). McGraw-Hill Education.
Pipas, M. D., & Jaradat, M. (2010). Assertive communication skills. Annales Universitatis Apulensis Series Oeconomica, 12(2), 649-656



Comments are closed.